
Proyek Digital Marketing dan Kegilaannya
"Ada proyek yang bikin bangga, tapi ada juga yang bikin kita benar-benar lelah. Bukan karena tak sanggup, tapi karena sadar: ada batas waras dalam dunia digital marketing."
Kadang ada proyek yang membuat kita bangga setengah mati. hasilnya bagus, responnya positif, timnya kompak. Tapi ada juga proyek yang... bikin dada sesak. Bukan karena kita nggak sanggup, bukan juga karena kliennya jahat, tapi karena di tengah jalan kita sadar: "Wah, ini udah gila banget."
Saya bersyukur, di Doxadigital, sudah lebih dari dua dekade hidup di industri ini. Selama itu kami ketemu begitu banyak orang hebat, belajar dari tantangan absurd, dan melihat proyek-proyek yang luar biasa, baik yang jadi kebanggaan, maupun yang akhirnya harus kami lepas dengan berat hati.
Dan jujur, kali ini saya ingin cerita tentang satu proyek yang saya pilih stop. Bukan karena nggak mampu memenuhi requirement, bukan juga karena budget-nya nggak cocok. Tapi semurni karena satu hal: kelelahan menyanggupi ekspektasi user yang nggak pernah selesai.
Buat kamu yang bikin keputusan di bidang marketing, buat teman-teman agency owner, dan juga para talent, saya harap tulisan ini bisa jadi refleksi bareng... gimana kalau kita sama-sama bangun ekosistem digital marketing yang lebih sehat, manusiawi, dan sadar batas waras.
Karena di bisnis ini, mau kamu jago banget atau masih belajar, setiap proyek punya masanya. Kadang Tuhan izinkan kita ngelepas sesuatu supaya kita bisa ngaca, bukan supaya gagal. Karena jujur, dalam usaha ngejar proyek, sering banget idealisme kita mulai terkikis demi satu hal: uang.
Yes, kita semua butuh duit, buat gajian, buat operasional, buat jaga bisnis tetap hidup. Tapi ada garis tipis di sana. Jangan sampai keputusan bisnis kita 100% dikendalikan uang sampai lupa marwah sejatinya: membangun manusia lewat bisnis, bukan ngorbanin mereka.
Nah, kali ini saya mau mulai dari satu fenomena yang paling sering bikin proyek digital marketing jadi arena gila-gilaan:
1. Ekspektasi.
Ini hal yang semua agency pasti tahu, setiap proyek pasti datang dengan target dan KPI. Itu wajar. Tapi sering banget ekspektasi datang tanpa argumentasi yang jelas. Sering saya ketemu klien yang ngasih target angka sekian (traffic, leads, engagement), tapi tanpa data dasar apa pun. Dan anehnya, semua itu dibuat kayak misteri.
Bayangin kalau kamu ke dokter tapi dia nggak periksa apa pun, langsung kasih resep. Serem, kan? Nah, kurang lebih itu yang sering terjadi di dunia digital marketing. Dampaknya? Risiko yang besar. Karena setiap janji yang agency keluarkan, seharusnya punya dasar data yang kuat.
Coba bayangin proses pitching-nya aja. Kadang demi menang, kita rela janji “naikin traffic 100%” atau “turunin CPL setengah”. Padahal dalam hati tahu: “Kayaknya ini mustahil sih.” Tapi karena takut kehilangan proyek, akhirnya ambil risiko itu juga. Dan di sinilah kegilaannya muncul, saat kita tahu ada limit, tapi tetap gas pol, berharap nanti bisa minta maaf belakangan.
Buat saya, ini gila !
Poin penting yang pengen saya bagikan: ekspektasi yang sehat = transparansi yang sehat. Klien berhak tahu dasar perhitungan kita, dan kita berhak tahu konteks target mereka. Kalau dua hal ini terbuka, hasilnya jauh lebih realistis dan hubungan kerja jauh lebih manusiawi
2. The Shadow Hands
Saya menyebutnya: the shadow hands, "tangan bayang-bayang". Istilah ini muncul karena saya sering banget ngerasa, di Indonesia, proses menuju kesuksesan itu nggak murni soal kompetensi. Ada faktor lain yang nggak kelihatan, tapi dampaknya nyata sekali: networking.
Entah kenapa ya, semakin lama di industri ini, saya makin sadar bahwa sering kali hasil proyek atau tender itu bukan ditentukan oleh siapa yang paling paham, paling punya data, atau paling siap kerja keras, tapi oleh siapa yang kenal siapa. Dan ini… agak bikin perih untuk diakui.
Seringkali Doxa harus 'head-to-head' dengan perusahaan lain. Pas kami coba riset pakai tools pihak ketiga (karena sekarang udah banyak cara untuk lihat rekam jejak digital, klien, performa web, dll), hasilnya sering bikin geleng-geleng kepala. Kami lihat apa yang mereka lakukan, kualitasnya seperti apa, seharusnya pertarungannya cukup objektif. Tapi ternyata tidak sesederhana itu.
Saya sendiri bangun DoxaDigital dari kamar, literally. Orang tua saya akademisi, bukan pebisnis. Jadi saya besar tanpa modal koneksi hebat. Baru di 2023 saya bener-bener belajar apa itu networking, bukan sekadar berteman, tapi membangun relasi strategis yang bisa membuka pintu peluang.
Dan jujur, di titik itu saya punya dua rasa: antara kagum dan capek. Kagum karena akhirnya saya paham pentingnya jaringan. Capek karena sadar kadang kita harus “main” di area yang dulu saya hindari: dunia pertemanan bisnis yang sering lebih kuat dari pitch deck dan KPI itu sendiri.
Saya nggak takut sama kompetisi, karena justru dari kompetisi lah kita belajar jaga kualitas. Tapi kalau kenyataannya di lapangan main game-nya bukan cuma kompetensi tapi koneksi, ya di situ saya harus bilang, ini kegilaan kedua dalam dunia digital marketing.
Kadang saya mikir, kalau saja semua proses bisa kembali ke esensinya, siapa yang paling mampu, paling jujur, paling konsisten, industri ini mungkin bisa jalan lebih sehat. Tapi realitanya, kita harus belajar berdamai dengan shadow hands ini. Belajar gimana tetap pegang integritas, tapi juga ngga menutup diri dari pentingnya membangun relasi. Karena pada akhirnya, mungkin bukan soal memilih antara idealisme atau networking… tapi tentang gimana dua hal itu bisa hidup berdampingan tanpa saling membunuh.
3. Talents
Ini bagian yang paling bikin saya antara kagum dan sedih. Dan jujur, saya tahu jawabannya, tapi tetap aja, rasanya pengen curhat ke teman-teman sesama agency owner. Karena dari semua hal yang bikin dunia digital marketing makin “gila”, topik soal talent mungkin yang paling rumit.
Bisnis jasa seperti digital marketing ini berdiri di atas pundak manusia. Tanpa talent, semuanya berhenti. Mau secanggih apa pun AI, tetap nggak ada yang bisa gantiin insting kreatif, rasa, dan empati dari orang-orang yang menjalankan proyek di belakang layar. Mereka lah alasan kenapa kita bangun bisnis ini sejak awal. Tapi belakangan, proses mencari dan membangun talent rasanya makin bikin geleng-geleng kepala.
Saya ketemu banyak anak muda dari bootcamp, ada yang datang dengan semangat luar biasa, tapi ekspektasinya tinggi banget padahal pengalamannya masih minim. Ada juga yang… jujur aja, saya bingung apa yang mereka pelajari di sana. Kualitasnya absurd, seperti belum benar-benar paham dasar digital marketing, tapi sudah pede pasang harga tinggi.
Lalu, buat yang akhirnya kami terima, kebanyakan mereka datang untuk “pengalaman pertama”. Tapi setelah mulai matang, udah mau masa perpanjangan kontrak, mereka pindah ke agensi lain atau brand besar dengan gaji yang jauh lebih tinggi.
Di titik itu saya punya dua rasa: syukur dan kehilangan. Syukur karena kehidupan mereka lebih baik, mereka naik level. Tapi juga kehilangan, karena jujur, kadang saya merasa tempat ini cuma jadi batu loncatan atau sekolah sementara buat mereka.
Ironisnya, orang-orang yang keluar itu kadang belum kuat di hal fundamental. Tapi ketika mereka masuk ke perusahaan besar, tiba-tiba kariernya melesat hanya karena dapat “title” keren, entah karena agensinya Google Premier Partner, atau startup dengan nama mentereng. Dan ya, itu jadi semacam career hack. Cepat, tapi belum tentu dalam.
Sedihnya dobel: saya harus mulai ngebangun talent baru lagi dari nol, sementara perusahaan yang “membajak” mereka belum tentu bisa jaga mereka lama. Ini efek domino yang terasa banget di ekosistem agency lokal.
Tapi akhirnya saya sadar, solusi sebenarnya bukan perang talent, tapi bangun kultur. Karena mau sekuat apa kita bersaing sama raksasa atau startup besar, kita pasti kalah di sisi uang. Tapi kita bisa menang di sisi makna: bagaimana kerja di tempat kita bisa membuat orang merasa tumbuh, bukan cuma kaya.
Jadi sekarang saya selalu taruh satu prinsip di hati: siapa pun yang kerja bareng kita, itu sudah seizin Tuhan. Kalau mereka harus pergi, ya berarti memang itu waktunya. Tapi tetap saja, saya akan bilang bahwa fenomena hijack & career hack di kalangan talent muda ini, adalah kegilaan ketiga dalam digital marketing
Saatnya bergerak lagi
Kalau saya rangkum dari semua cerita di atas tentang ekspektasi klien yang nggak realistis, tentang shadow hands yang tanpa disadari ikut atur arah permainan, sampai dinamika gila soal talent, semuanya punya satu benang merah: dunia digital marketing itu indah sekaligus melelahkan.
Tapi di balik semua “kegilaannya”, saya tetap bersyukur bisa hidup di industri ini. Karena di sini saya belajar banyak tentang manusia. Tentang idealisme dan kompromi. Tentang duit dan nilai. Tentang bagaimana menjaga hati tetap bersih di tengah tekanan target dan ego.
Kadang, proyek yang paling bikin kita tumbuh bukan yang paling sukses di mata dunia, tapi yang paling banyak bikin kita mikir, introspeksi, dan rela melepaskan. Karena di titik itu, kita belajar batas waras, dan belajar percaya bahwa berhenti pun bisa jadi bentuk kemenangan.
Buat teman-teman agency owner, klien, dan talent, semoga kita sama-sama sadar, marketing bukan cuma soal campaign dan KPI, tapi juga soal membangun ekosistem yang sehat, di mana semua orang bisa tumbuh. Nggak perlu sempurna, cukup waras dan jujur aja udah luar biasa.





